RESULTAN ENGINEERING

Home » Disaster Prevention » Pengendalian Banjir Tokyo Metropolitan Area – Bagian 1: Latar Belakang dan Kondisi Geografis Dataran Kanto

Pengendalian Banjir Tokyo Metropolitan Area – Bagian 1: Latar Belakang dan Kondisi Geografis Dataran Kanto

Pada kesempatan kali ini penulis kembali membuat tulisan berbahasa Indonesia tentang Pengendalian Banjir Tokyo Metropolitan Area (TMA) dalam beberapa seri. Topik ini ditulis dengan bahasa Indonesia karena dirasa sangat relevan dengan kondisi di Indonesia terutama di DKI Jakarta dan mungkin bisa menjadi sedikit referensi bagi usaha pengendalian atau penanggulangan banjir di DKI Jakarta maupun kota-kota lainnya.

Dataran Kanto

Dataran Kanto adalah dataran terluas di Jepang yang terletak di Pulau Honshu. Tokyo, Saitama, Kanagawa, Chiba, Gunma, Ibaraki, dan Tochigi adalah prefektur-prefektur yang terletak di dataran ini. Sisi utara-barat Kanto dibatasi oleh barisan pegunungan, sedangkan sisi timur-selatan berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik (Gambar 1). Sesuai istilahnya, dataran Kanto ini nyaris benar-benar datar. Di tengah wilayah ini kemiringannya kurang dari 1:2000 bahkan ada yang hanya 1:8000 di bagian Timur.

250px-Mapofkanto

Sejak ratusan tahun lalu, Tokyo-Kanagawa-Chiba yang terletak di bagian pesisir merupakan salah satu pusat perdagangan dan pelabuhan yang sangat ramai Dan hingga saat ini Yokohama (Kanagawa) dan Teluk Tokyo masih merupakan pusat-pusat perindustrian dan perdangangan yang menunjang perekonomian Jepang.

Sungai-sungai Utama yang Melintasi Kanto

Di dataran Kanto terdapat beberapa sungai besar dan anak sungai yang berhulu di Saitama-Gunma-Niigata dan bermuara di Tokyo-Chiba. Dua sungai terbesar adalah Arakawa & Tonegawa. Arakawa adalah sungai sepanjang 173 km yang membentang dari Gunung Kabushi di Saitama melintasi pusat kota Tokyo sampai Teluk Tokyo. Pada salah satu lokasi, lebar Arakawa mencapai 2.537 meter dan merupakan sungai terlebar di Jepang. Menurut sejarah, lebar Arakawa pada zaman dahulu jauh lebih besar daripada Arakawa saat ini, bahkan sebagian wilayah Saitama dahulunya terendam air laut.

Gambar 2. Arakawa (sumber: dok. pribadi)
Gambar 2. Arakawa (sumber: dok. pribadi)

Sungai besar lainnya adalah Tonegawa yang membentang sepanjang 322 km dari pegunungan di Gunma sampai Chiba dan bermuara di Samudera Pasifik. Sebelum zaman Edo (sekitar abad ke 16), Tonegawa tidak bermuara di Chiba melainkan di Teluk Tokyo. Untuk melindungi Edo (Tokyo) dari bahaya banjir, pemerintahan pada masa itu melakukan pengalihan aliran sungai ke arah timur (garis biru di Gambar 3). Pada saat ini Tonegawa merupakan sungai dengan daerah tangkapan air yang terbesar di Jepang yang luasnya mencapai sekitar 17000 m2. Menurut sejarah selain dipindahkan alurnya, Tonegawa ini pernah beberapa kali berpindah jalur pada saat kondisi banjir, secara alami mencari arah aliran yang tercepat menuju muara. Pengendalian dan pencegahan banjir di aliran Tonegawa sudah dilakukan sejak zaman dahulu, pada masa shogun dan masih berlanjut hingga saat ini.

Pengalihan aliran Tonegawa (sumber: junglekey.fr)

Gambar 3. Pengalihan aliran Tonegawa (sumber: junglekey.fr)

Gambar 4. Tonegawa (sumber: commons.wikimedia.org)

Gambar 4. Tonegawa (sumber: commons.wikimedia.org)

Taifun

Dengan lokasi yang terletak di wilayah sub-tropis dan berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, Jepang menjadi sangat rentan oleh taifun. Sederhananya, taifun merupakan pusaran angin berkecepatan tinggi (lebih dari 118 km/jam) yang bergerak melengkung dari timur Pasifik (utara Indonesia bagian timur) ke arah barat-utara dan kembali ke timur. Taifun biasanya melewati Filipina, Hongkong, Taiwan-sebagian daratan China, Korea, dan Jepang.

Pada saat melewati daratan, Taifun membawa air dalam jumlah yang sangat besar dan bisa menyebabkan banjir besar. Di Jepang hampir setiap tahun terjadi taifun dengan intensitas tertinggi terjadi pada periode bulan Agustus-Oktober. Beberapa Taifun besar yang terjadi dalam rentang 100 tahun ini diantaranya adalah Taifun Kathleen pada September 1947, Taifun Kanogawa (no.21 & 22) pada September 1958, Taifun no.18 pada September 1991 dan Taifun yang baru saja terjadi adalah Taifun no.26 pada 16 Oktober 2013.

Gambar 5. Jalur Taifun Kathleen 1947 (sumber: Prof. Watanabe)

Gambar 5. Jalur Taifun Kathleen 1947 (sumber: Prof. Watanabe)

Gambar 6. Banjir akibat Taifun Kanogawa 1958 (sumber: Prof. Watanabe)

Gambar 6. Banjir akibat Taifun Kanogawa 1958 (sumber: Prof. Watanabe)

Gambar 7. Banjir akibat Taifun no.18 1991 (sumber: Prof. Watanabe)

Gambar 7. Banjir akibat Taifun no.18 1991 (sumber: Prof. Watanabe)

Taifun Kathleen yang terjadi pada 15-16 September 1947 merupakan salah satu taifun terburuk bagi warga Tokyo dan sekitarnya karena menyebabkan banjir besar akibat hancurnya tanggul Tonegawa dan Arakawa. Dilaporkan saat itu umlah korban meninggal sebanyak 1077 jiwa dan 853 orang dinyatakan hilang. Taifun ini juga yang menjadi salah satu pemicu program pengendalian banjir Tokyo Metropolitan Area di era modern Jepang.

Tokyo dan Jakarta

Dari beberapa kondisi yang sudah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Tokyo merupakan kota yang memiliki resiko bencana banjir sangat tinggi. Ketika terjadi taifun curah hujan meningkat sangat besar hanya dalam 1-2 hari saja. Mengingat kemiringan dataran Kanto ini sangat landai, debit air yang sangat besar itu tidak bisa dialirkan secara alami dengan cepat oleh sungai-sungai yang ada sehingga sungai kelebihan kapasitas.

Jika ditinjau dari penyebab utamanya, potensi hujan di Jakarta tentulah bukan taifun seperti di Tokyo melainkan curah hujan musiman yang tinggi terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Tetapi dari sisi geografis dan beberapa sisi sosial, ada kemiripan antara Jakarta & Tokyo sebagai berikut:

  • Jakarta dan Tokyo sama-sama berada di dataran rendah yang langsung berbatasan dengan lautan.
  • Banyak sungai-sungai yang melintasi Jakarta yang hulu-sungainya sendiri berada di provinsi lain (misalnya Bogor dan Cianjur, Jawa Barat). Tentunya kondisi aliran sungai di Jakarta akan sangat dipengaruhi oleh aliran dari hulu.
  • Tokyo dan Jakarta sama-sama merupakan ibukota yang menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian negaranya masing-masing, dan memiliki jumlah penduduk yang sangat besar.
  • Maka dari itu, seperti hal-nya TMA, kebijakan pengendalian banjir di Jakarta tidak mungkin bisa dilakukan oleh stakeholder di Jakarta saja melainkan juga provinsi tetangga bahkan mungkin seharusnya menjadi program nasional.
 
 
# Edisi selanjutnya dari tulisan ini akan membahas lebih detail tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintahan Jepang dan warganya untuk melindungi TMA dari ancaman banjir.
# Materi penulisan dirangkum dari beberapa sumber seperti Wikipedia, materi kuliah, dan pengalaman pribadi penulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: