RESULTAN ENGINEERING

Home » Disaster Prevention » Pengendalian Banjir TMA – Bagian 3: Daerah Penyangga Sungai

Pengendalian Banjir TMA – Bagian 3: Daerah Penyangga Sungai

Setelah cukup lama tertunda, seri Pengendalian Banjir TMA dilanjutkan lagi dengan bahasan mengenai daerah penyangga sungai. Dan mungkin tulisan berikut bukan hal baru, bersifat umum, tidak terlalu teknis, bahkan mungkin lebih bersifat pengingat sosial.

Fungsi utama sungai sebagai penyalur air permukaan menuju lautan pada dasarnya dinilai dari parameter debit vs kapasitas. Sederhananya; debit > kapasitas = banjir ; debit < kapasitas = normal. Debit relatif lebih sulit dikendalikan oleh manusia, karena manusia tidak mampu mengatur kapan harus hujan kapan harus kering. Debit lebih cenderung bersifat “diluar kendali manusia”, walaupun ada beberapa usaha manusia dalam mengendalikannya (nanti dibahas di edisi selanjutnya). Yang lebih “mudah dikendalikan” adalah kapasitas. Logika sederhananya, kalau tidak ingin banjir ya buatlah kapasitas sungai sedemikian sehingga selalu lebih besar daripada debitnya. Tapi apakah sesederhana itu? Semampu apa manusia menambah kapasitas?

Seperti halnya manusia yang tidak mungkin bisa hidup sendiri dan saling mempengaruhi berinteraksi satu sama lain, sungai pun begitu, alam pun begitu. Alam selalu berinteraksi dan berubah untuk membentuk kesetimbangan dan mempertahankan daya dukungnya. Kondisi sungai dipengaruhi oleh banyak hal; bentuk geografis dasar sungai, kehidupan di dalam sungai, kualitas air yg mengalir, kecepatan aliran, tanaman yang tumbuh di sepanjang sisi sungai, kondisi tanah/batuan di sekitar sungai, konsentrasi sedimen di dalam aliran, dan lain-lain, dan macam-macam, dan banyak lagi, sangat tidak sederhana. Jadi mengendalikan kapasitas sungai tidak sebatas menjaga kedalaman dan lebar sungai saja (sebagaimana sering dilakukan di sungai-sungai di Indonesia dengan menerjunkan mesin pengeruk lumpur atau bahkan sampah dengan istilah “normalisasi”). Yang lebih penting adalah menjaga semua faktor yang mempengaruhi kondisi sungai agar bersahabat terhadap sungai, atau dengan kata lain buatlah daerah sepanjang sisi sungai se-alami mungkin. Kita jadikan daerah sisi-sisi sepanjang sungai sebagai daerah penyangga.

Gambar 1. Nagatoro (sumber: nagatoro.gr.jp)

Gambar 1. Nagatoro (sumber: nagatoro.gr.jp)

Gambar di atas merupakan foto hulu sungai Arakawa di daerah Nagatoro, prefekur Saitama, kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari pusat kota Tokyo. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Tokyo dan kawasan permukiman Saitama, keasrian dan kondisi alam Nagatoro masih cukup terjaga. Tidak hanya di Nagatoro, kondisi alam seperti itu bisa dilihat hampir di seluruh hulu daerah aliran sungai di Jepang. Pemahaman akan fungsi hutan sebagai penyangga fungsi sungai sangat dipahami dan diwujudkan dalam bentuk konservasi oleh pihak-pihak yang berwenang dan didukung oleh warganya. Hal yang sama juga sudah dilakukan di Indonesia, misalnya dengan menjadikan kawasan hutan Gunung Gede-Pangrango yang merupakan hulu sungai-sungai yang mengalir ke Bogor (dan lanjut ke Jakarta) sebagai kawasan konservasi. Tetapi apakah kita sebagai warga sudah mendukung usaha itu? Mungkin orang-orang yang pernah mendaki Gunung Gede-Pangrango sedikit banyak bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan di atas.

Kondisi alam di sekitar hulu sungai biasanya relatif lebih baik dibandingkan dengan hilirnya. Populasi manusia yang relatif lebih banyak di daerah hilir menyebabkan kondisi alam lebih cepat rusak. Kerusakan biasanya diawali oleh berkurangnya jumlah vegetasi, abrasi terhadap bantaran sungai, air menjadi lebih keruh, abrasi terbawa air dan mengendap di dasar sungai, pengdangkalan akibat bertambahnya sedimen, kapasitas sungai berkurang, kemudian banjir. Contoh kerusakan tahap awal daerah penyangga sungai bisa dilihat di tautan blog berikut.

Bagaimana jika fungsi daerah penyangga sungai di daerah hilir terutama di perkotaan sudah terlanjur berubah? Mengembalikan fungsi penyangga sungai di perkotaan bukanlah hal mudah, biasanya terbentur dengan masalah “kependudukan”. Ujung-ujungnya masalah menjadi terlalu kompleks karena terkait juga masalah kemiskinan, pendidikan, ekonomi, hak azasi manusia, dan lain-lain, dan macam-macam, dan banyak lagi, terlalu kompleks, bukan kapasitas kami untuk memberi pandangan di sisi tersebut. Baiklah kembali ke masalah penyangga sungai di daerah hilir, bagaimana cara Jepang atau mungkin negara maju lain untuk bersahabat dengan sungai?

Jumlah penduduk yang banyak padat dan lahan yang sempit memaksa warga Tokyo dan sekitarnya mengubah fungsi lahan hijau menjadi tempat tinggal ataupun infrastruktur pendukung lain bagi keperluan hidup mereka. Mereka tidak bisa mempertahankan hutan sebagai penyangga sungai, hanya ada taman-taman kota yang sebisa mungkin tetap hijau. Daerah sisi-sisi sungai beralih fungsi menjadi fasilitas pendukung sekunder-tersier. Alih fungsi lahan menjadi suatu keniscayaan bagi wilayah perkotaan atau wilayah yang sedang membangun, tinggal bagaimana kita menata lahan tersebut agar bersahabat dengan kehidupan kita dan meminimalisir risiko kerugian jika banjir harus terjadi.

Gambar 2. Arakawa-Saitama (sumber: GoogleMaps)

Gambar 2. Arakawa-Saitama (sumber: GoogleMaps)

Gambar 3. Arakawa-Tokyo (sumber: GoogleMaps)

Gambar 3. Arakawa-Tokyo (sumber: GoogleMaps)

Gambar 4. Arakawa Panorama

Gambar 4. Arakawa Panorama

Gambar 5. Penyangga Sungai Arakawa

Gambar 5. Penyangga Sungai Arakawa

Gambar-gambar di atas merupakan foto-foto sekitar sungai Arakawa yang melewati pusat kota Saitama dan Tokyo. Sisi kanan-kiri sungai dibiarkan terbuka, ada yang menjadi taman kota, lapangan golf, lapangan sepakbola, lapangan baseball, tempat berkemah, atau sebagai pusat kegiatan apapun yang bisa dilakukan di ruang terbuka, yang sifatnya sekunder. Sulit untuk bisa menemukan fasilitas primer (rumah, pusat perdagangan, industri, sekolah, rumah sakit, dll) yang berada tepat di samping sungai. Tata letak fasilitas primer-sekunder-tersier ini menjadi kunci bagaimana warga perkotaan bisa bersahabat dengan sungai. Dalam kondisi curah hujan normal atau bahkan taifun tahunan, sungai Arakawa jarang meluap. Sehari-hari sisi sungai dikunjungi oleh warga yang ingin berolahraga atau sekedar bersantai. Tetapi bagaimana kalau taifun super besar melintasi wilayah Kanto dan debit sungai menjadi berlipat-lipat? Ya silahkan saja banjir. Kalaupun sungai meluap, tidak ada juga orang yang bermain bola di saat curah hujan sangat tinggi, apalagi bermain golf, apalagi bersantai di kursi taman. Dan masyarakat tidak menjadi sakit atau stress karena tidak bermain bola atau tidak membaca buku di taman selama 1 minggu karena tamannya terendam. Pemerintah pun tidak  perlu repot untuk menyiapkan dana pasca-banjir untuk merekonstruksi lapangan bola, cukup menunggu rumputnya tumbuh normal kembali dan membeli kapur untuk menandai garis lapangan.

Apakah mungkin Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia bisa seperti itu? Tidak ada yang tidak mungkin sepertinya, bisa diusahakan dengan pemahaman dan kerjasama berbagai pihak terkait. Banyak ahli-ahli tata kota di Indonesia yang lebih paham ilmunya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: