RESULTAN ENGINEERING

Home » Disaster Prevention » Belajar dari Bencana: Gagalnya Taro City’s Great Wall

Belajar dari Bencana: Gagalnya Taro City’s Great Wall

Tulisan kali ini akan mengulas pegalaman pribadi saat berkunjung ke daerah bencana gempa  Great East Japan Earthquake. Ada banyak sisi ketekniksipilan yang dapat kita ulas dari gempa besar ini, namun tulisan kali ini akan fokus pada satu kasus runtuhnya struktur akibat tsunami yang dipicu dari gempa besar ini. Bangunan ini disebut Taro City’s Great Wall. Kasus Taro City’s Great Wall ini mendapat perhatian besar karena pelajaran yang ditinggalkan sangat besar. Pelajaran dari kasus ini akhirnya memaksa pemerintah Jepang untuk mempertimbangkan kembali pembangunan sea wall (dinding penahan ombak) di seluruh Jepang.

Taro terletak di Prefektur (Provinsi) Iwate  di sebelah Timur Laut pulau Honshu Jepang seperti terlihat pada gambar 1 dan 2. Prefektur ini terkena efek gempa hebat skala 9.0 magnitude pada 11-Maret-2011 silam.  Taro City terletak cukup dekat sekitar 130 km dari pusat gempa. Dalam sejarahnya, prefektur ini memang telah berulang-ulang kali diguncang gempa dan juga tsunami seperti terlihat pada gambar 2. Tsunami besar sebelumnya teradi pada tahun 1933, gempa hebat Sanriku Earthquake yang berkekuatan 8.4 magnitude menimbulkan tsunami besar berketinggian 28.7 meter. Tsunami tersebut menerjang sekitar 7000 rumah dan menimbulkan korban jiwa sekitar 3000 orang. Sejak saat itu pemerintah setempat membangun Taro City’s Sea Wall untuk melindungi warga dari tsunami.

Patut dicermati bahwa sea wall ini berbeda dengan sea wall yang diwacanakan akan dibangun di Utara Jakarta. Ada dua tipe sea wall pada umumnya, yaitu sea wall yang berfungsi untuk menahan air pasang laut dan sea wall yang dibangun untuk penahan gelombang tsunami. Pada kasus Taro city, sea wall ini dibangun tidak hanya untuk menahan gelombang tsunami tapi juga untuk menahan gelombang akibat typhoon.

Gambar 1. Prefektur Iwate - Jepang

Gambar 1. Prefektur Iwate – Jepang

Gambar 2. Taro City - Iwate

Gambar 2. Taro City – Iwate

Pada saat terjadinya, Great East Japan Earthquake ini mengeluarkan energi sebesar 1.9×1017 Joule, atau setara dengan 600 juta kali bom Hiroshima. Energi tersebut menyebabkan gelombang tsunami yang menerjang ke 11 prefecture di  pantai timur Jepang. Ketinggian terbesar tsunami yang dihasilkan dari gempa ini sekitar 39 meter dan terjadi pada Miyako City yang terletak sekitar 6 km selatan Taro city.

Jika dilihat dari susunannya pada gambar 3, sea wall ini terdiri dari 3 struktur terpisah yang kemudian saling menyilang menyerupai huruf “X”. Tujuan dibuatnya stuktur menyilang tersebut yaitu untuk memberikan perlindungan ganda pada Taro City ini. Struktur sea wall ini memiliki ketinggian 4 meter (10 m dari permukaan air laut) dan terbuat dari tanah yang dipadatkan dan kemudian dilapis dengan beton.

Gambar 3. Susunan struktur Taro City Sea Wall

Gambar 3. Susunan struktur Taro City Sea Wall (sumber: Japan Today)

Sejak dibangunnya, sea wall ini terbukti sangat efektif menahan tsunami minor dan arus gelombang akibat typhoon. Oleh karenanya sea wall ini juga disebut sebagai Taro City Great Wall oleh penduduk sekitar. Ditambah dengan fakta bahwa generasi yang lahir setelah gempa besar pada tahun 1933 tidak memiliki ingatan tentang tsunami yang meluluh-lantahkan Taro city ini. Masalah yang kemudian terjadi pada gempa 2011 silam, tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap sea wall ini justru menimbulkan alarm yang salah. Sesaat setelah terjadinya gempa hebat skala 9.0 Magnitude, mayoritas penduduk sekitar tidak mengevakuasi diri ke tempat dataran tinggi evakuasi tsunami. Melainkan, banyak dari mereka tidak beranjak kemana-mana. Apa yang terjadi adalah pertama-tama gelombang tsunami setinggi 28.7 meter tersebut menerjang melampaui sea wall (ketinggian 10 meter) dan menerjang rumah-rumah dan penduduk  yang tidak mengevakuasi diri di dalamnya. Tetapi apa yang terjadi berikutnya tidak kalah impact nya dengan kejadian yang pertama. Air tsunami yang seharusnya surut ke laut setalah menerjang daratan justru kemudian tertahan oleh sea wall itu sendiri. Akibatnya air laut menenggelamkan rumah warga dengan ketinggian 10 meter dan tidak surut dalam waktu yang sangat lama. Tidak jelas berapa korban jiwa yang meninggal akibat tinggi genangan air ini. Tetapi diyakini bahwa hal ini mengakibatkan banyak korban jiwa. Pola kejadian tsunami yang terjadi pada Taro City ini dapat dilihat pada gambar skematik dibawah. Gambar 4(a) adalah gambar skematik suatu kota pesisir yang tidak di lindungi oleh sea wall. Gambar 4(b) adalah gambar kota yang dilindungi oleh sea wall.

Gambar 4a. Skematik pola kejadian tsunami pada kota yang tidak dilingdungi sea wall

Gambar 4a. Skematik pola kejadian tsunami pada kota yang tidak dilingdungi sea wall

Gambar 4b. Skematik pola kejadian tsunami pada kota yang dilindungi sea wall

Gambar 4b. Skematik pola kejadian tsunami pada kota yang dilindungi sea wall

Jika dilihat dari sistem penanggulangan tsunami di Jepang, hampir di seluruh pantai timur Jepang banyak sekali ditemui struktur sea wall ini. Akan tetapi setelah kejadian ini, para akademisi dan pemerintah Jepang dipaksa untuk  berpikir ulang apakah sea wall ini membawa efek positif atau malah memberikan efek negatif pada saat terjadinya tsunami besar. Menurut pendapat saya, sea wall seperti ini masih dibutuhkan, karena sebagian besar tsunami yang terjadi adalah minor (dibawah 5 meter). Adapun fungsi lain dari sea wall ini ialah sebagai penahan air pasang/gelombang pada saat terjadinya typhoon. Untuk kasus tsunami besar, sea wall ini berfungsi menahan momentum dan energi kinetik yang dihasilkan dari kecepatan datangnya tsunami. Tanpa adanya sea wall, saya berpendapat mungkin lebih banyak lagi korban jiwa yang ditimbulkan. Hal ini bisa disebabkan karena korban langsung tersapu oleh kecepatan datangnya tsunami dan tidak punya kesempatan menyelamatkan diri. Gambar 5(a) dan 5(b) dibawah adalah gambar-gambar yang berhasil diambil pada saat kunjungan lapangan. Gambar 5(a) adalah gambar Taro city sea wall dari arah pantai, sedangkan Gambar 5 (b) adalah gambar dari sebelah dalam sea wall yaitu Taro city itu sendiri. Dari kedua gambar ini dapat dilihat kalau kerusakan yang ditimbukan dari gelombang tsunami ini memang sangat dasyat. Hampir seluruh bangunan yang berada di dalam Taro city tersapu gelombang tsunami. Untuk lebih jelasnya mengenai kerusakan yang ditimbulkan dari tsunami ini dapat dilihat dari video berikut.

Gambar 5a. Kondisi kerusakan sisi luar sea wall

Gambar 5a. Kondisi kerusakan sisi luar sea wall

Gambar 5b. Kondisi kerusakan Taro City (sisi dalam sea wall)

Gambar 5b. Kondisi kerusakan Taro City (sisi dalam sea wall)

Pada umumnya, engineered structure didesain untuk melayani kapasitas 95% dari total kemungkinan gagal. Dimana 5% diluarnya adalah kemungkinan terjadinya gaya luar yang besarnya tidak biasa. Besar kecilnya nilai probabilitas beban ekstrim ini tentunya bergantung dari analisa periode ulang beban itu sendiri. Untuk beban gempa/tsunami, semakin lama periode ulang beban gempa maksimum yang terjadi, maka semakin kecil nilai probabilitas kemunculannya, namun semakin besar energi yang diikeluarkan saat terjadi. Perlu diingat bahwa dalam kondisi normal, struktur tidak di desain untuk menerima beban masif tsunami yang dihasilkan Great East-Japan Earthquake. Adapun, kegagalan struktur yang disebabkan oleh beban-beban anomali tersebut di dalam ilmu ketekniksipilan itu disebut force majeur.

Kesimpulannya, adalah suatu hal yang positif bahwa manusia memiliki kepercayaan pada engineered structure yang dibangunnya. Namun pada kenyataannya, saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi dengan seksama kapan munculnya gempa besar. Teknologi yang ada sekarang dapat mengetahui intensitas gempa dan potensial terjadinya tsunami dalam hitungan detik sesaat setelah terjadinya bencana. Di Jepang, pemerintah sudah menyiapkan sistem peringatan terpadu baik lewat sms, TV dan berbagai macam yang mengimbau warga pada saat terjadinya bencana dalam hitungan detik. Sistem ini sangat meminimalisir jatuhnya korban kapanpun terjadinya bencana. Dari kasus Taro city ini sendiri, banyak sekali pelajaran yang dapat kita tarik sebagai akademisi, praktisi, ataupun pengambil kebijakan pemerintahan. Setiap warga perlu mengambil tindakan preventif yang lebih menjamin keselamatan mereka daripada bergantung pada reliabilitas engineered stucture itu sendiri.

-SW-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: